Archive for the 'Energi Alternatif' Category

Kaji Alquran, Hasilkan ’Banyugeni’

BAHAN bakar air? Kedengarannya aneh. Maka wajar jika menimbulkan pertanyaan. Namun jika umat Islam memahami makna-makna yang terkandung di dalam Alquran, sebenarnya hal itu bukanlah sebuah kemustahilan.
Seperti disebut Rektor UMY Dr Khoiruddin Bashori, berasal dari mencerna apa yang termaktub di dalam surat At-Thur (6) yang mengatakan perhatikan laut yang berapi, surat Al-Anbiya’ (30)….. Dan Kami jadikan dari air segala sesuatu hidup serta At-Takwir (6) ”Dan apabila laut dipanaskan” inilah kehadiran bahan bakar air dimulai. ”Tentu dengan melakukan penelitian dan pengembangan yang cukup panjang. Saat ini telah diketemukan teknologi yang mampu memproduksi bahan bakar dengan bahan baku air (hidrofuel). Produk ini hasil penelitian UMY,” jelas Khoiruddin, Selasa (12/2).
Tentu bukan tanpa alasan bagi UMY dengan kajian dan melakukan penelitian tersebut. Tak semata-mata beratnya beban pemerintah yang terus mengalami defisit anggaran dan tingginya subsidi pemerintah untuk BBM yang terus menanjak. Apalagi untuk tahun 2007 lalu, tambah Khoiruddin, sudah mencapai Rp 50,64 triliun.

Ketika bahan bakar dari minyak bumi dan batubara bukan hanya makin sulit diperoleh namun menyisakan emisi gas yang berbahaya bagi kesehatan, pelbagai alternatif harus dilakukan. ”Fakta ini menimbulkan kesadaran peneliti UMY untuk melakukan eksplorasi terhadap sumber bahan bakar baru,” kata Khoiruddin didampingi Ketua BHK UMY, Achmad Ma’ruf SE MSi. Rabu (13/2) hari ini, kehadiran banyugeni akan dikenalkan lewat soft-launching yang akan dihadiri Bupati Bantul Idham Samawi.
Perjalanan panjang yang dilakukan tim peneliti Drs Purwanto, Ir Bledug Kusuma Prasadja MT, Ir Tony K Haryadi MT, Ir Lilik Utari MS dan Dra Nike Triwahyuningsih MP ini kini menghadirkan hidrofuel. Dan ini sebenarnya, bisa menjadi jawab atas ‘tantangan’ Presiden SBY akan kehadiran bahan bakar air, beberapa waktu lalu. ”Produk hidrofuel hasil penelitian UMY ini telah dipatenkan dengan nama banyugeni,” kata Ma’ruf.
Produk hidrofuel ini memiliki varian berupa hidro-kerosene (setara minyak tanah), hidro-diesel (setara solar), hidro-premium (setara bensin) dan hidro-avtur (setara bahan bakar jet). Ke depan, sebut Ma’ruf, akan dikembangkan produk lain yang memiliki keunggulan lebih dari varian yang ada saat ini. ”Produk ini sudah diuji PT CoreLab Indonesia, sebuah laboratorium internasional yang independen. Hasilnya, ke-4 varian banyugeni telah memenuhi standar Ditjen Migas,” tambah Ma’ruf.
Hasil ujicoba menunjukkan jika hidro-kerosene dapat langsung digunakan untuk menyalakan kompor minyak tanah, lampu minyak atau petromak. Hidro-diesel dapat langsung digunakan pada mesin diesel atau mobil dengan bahan bakar solar. Sementara, hidro-premium dapat langsung digunakan pada mobil, motor dan mesin berbahan bakar bensin serta pesawat aeromodeling. Sementara, hidro-avtur telah diujicobakan pula pada mesin berbahan bakar jet (jet-fuel), misal untuk pesawat aeromodeling.

Penelitian ini memang akan terus dikembangkan. Tidak hanya pada level laboratorium namun menurut Kepala BHK UMY juga level industri. ”Sehingga akan dapat memenuhi kebutuhan energi sektor transportasi, sektor industri dan sektor rumahtangga dengan harga murah,” kata Ma’ruf. Apalagi bahan bakar ini juga bisa dikatakan tidak merusak.
Seperti pengujian terhadap hidro-kerosene memperlihatkan bahwa bahan bakar rakyat tersebut selain tidak korosif, tidak beracun dan tidak beremisi bahkan tidak meninggalkan asap jelaga yang berlebihan. Seperti dalam pengujian untuk hidro-premium hasilnya menunjukkan sangat tidak korosif atau tidak menyebabkan karat, skala copper strip corrosion 1a. Juga tidak meninggalkan residu karena hanya 0,5%vol dari maksimal 2,0%vol yang diizinkan. ”Selain itu kandungan bahan pencemar dari emisi bahan bakar ini sangat rendah. Antara lain kandungan sulfur hanya 0,03%wt dari maksimal 0,05%wt yang diizinkan. Sedang kandungan timbale (Pb) hampir nol dari maksimal 0,013 yang diizinkan,” jelas Ma’ruf.
Ma’ruf dan juga Khoiruddin mengakui, implikasi produk ini sangat luas. Pengurangan beban biaya produksi semua sektor dan secara langsung bisa menghemat anggaran untuk subsidi BBM. ”Yang paling penting, ini bisa dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kemakmuran dan kesejahteraan rakyat Indonesia, bukan untuk kepentingan kelompok apalagi golongan,” jelas Khoiruddin Bashori. (Fsy)-z

Api dari Air

Biasanya air digunakan untuk memadamkan api. Tapi peneliti dari Pusat Studi Pengembangan Energi Regional (Pusper) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) justru membuat api dari air. Temuan yang diberi nama hydrofuel atau bahan bakar berbahan dasar air ini akan dipatenkan dengan merek Banyugeni. Peluncuran produk yang akan segera diperkenalkan kepada masyarakat tersebut dilakukan oleh Rektor UMY Khoiruddin Bashori bersama Bupati Bantul Idham Samawi di Yogyakarta kemarin. Uji coba bahan bakar baru itu dilakukan dengan menyalakan lampu minyak, kompor, traktor, sepeda motor, dan pesawat aeromodeling. Lampu minyak dan kompor yang diisi BanyugeniTM bisa menyala dengan baik. Minyak berbahan dasar air yang disiramkan ke lantai juga langsung terbakar begitu terkena api. Traktor dan sepeda motor yang diisi dengan hydrofuel, mesinnya juga menyala sempurna.

“Ini luar biasa,” kata Idham Samawi. Khoiruddin mengungkapkan hydrofuel tersebut ditemukan melalui serangkaian penelitian selama setahun terakhir. Produk tersebut sudah diuji di PT CoreLab Indonesia, sebuah laboratorium internasional yang independen. Hasilnya secara meyakinkan menunjukkan bahwa biofuel tersebut telah memenuhi standar bahan bakar BP Migas. BanyugeniTM mempunyai varian produk berupa hidro-kerosin (setara dengan minyak tanah), hidro-diesel (setara solar), hidro-premium (setara bensin), dan hidro-avtur (setara bahan bakar jet). “Masih akan dikembangkan pula varian produk lain yang mempunyai keunggulan lebih yang ada saat ini,” kata Khoiruddin.
Secara ilmiah penggunaan air untuk bahan bakar sebenarnya sangat masuk akal. Menurut Purwanto, salah satu peneliti yang terlibat dalam pengembangan hydrofuel itu, air terdiri atas hidrogen dan oksigen, kedua unsur yang mudah terbakar. “Jadi, pada hakikatnya, air adalah api,” kata dia. Selain Purwanto, ada empat peneliti lain yang terlibat dalam tim pembuat Banyugeni, yaitu Bledug Kusuma Prasadja, Tony K. Haryadi, Lilik Utari, dan Nike Triwahyuningsih.

Air yang digunakan untuk membuat minyak itu adalah air tawar biasa, yang diolah lewat teknologi mekanotermal-elektrokimia. Prosesnya melalui empat tahap, yakni mekanis, termal (pemanasan), elektris, dan kimiawi. Namun, Purwanto masih merahasiakan campuran yang digunakan dalam proses kimiawi karena teknologi itu belum dipatenkan. Meski berbahan dasar air, hidro-premium tidak korosif atau menimbulkan karat. Bahan bakar ini juga tidak meninggalkan residu, cuma 0,5 persen dari maksimum 2,0 persen volume yang diizinkan.
Kandungan bahan pencemar emisinya sangat rendah. Kandungan sulfur dari gas buang hanya 0,03 persen wt dari maksimum 0,05 persen wt yang diizinkan, serta kandungan timbal (Pb) hampir nol, dari batas tertinggi 0,013.
Pengujian terhadap pesawat aeromodeling menunjukkan bahan bakar ini bisa memasok tenaga cukup besar, di atas 16 ribu rpm. Hidro-avtur yang digunakan juga tidak korosif dan beremisi rendah, total sulfur hanya 10 persen dan tidak mudah membeku (titik beku minus 45 derajat Celsius). “Pada pengujian terhadap pesawat aeromodeling, bahan bakar ini dapat digolongkan sebagai bahan bakar jet dan akan tetap bersifat dingin (cool-fuel), memiliki IBP (titik didih awal) 164 derajat Celsius.”
Hidro-diesel juga tidak korosif. Titik didih awalnya 201 derajat Celsius, emisinya rendah dan tidak meninggalkan residu berlebihan, dengan indeks cetane 51,3. “Hasil pengujian terhadap hidro-kerosin juga memperlihatkan bahwa bahan bakar ini tidak beracun dan tidak beremisi pada pengujian dengan lampu minyak. Hidro-kerosin tidak menimbulkan asap jelaga yang berlebihan,” katanya.

Khoiruddin Basyori mengatakan sejauh ini UMY belum secara resmi melakukan komunikasi dengan pemerintah soal temuan tersebut. Namun, diakuinya, sudah ada sejumlah pihak yang menawarkan kerja sama memproduksi BanyugeniTM secara massal. “Namun, menurut kami, minyak adalah hal yang sangat sensitif sehingga kami sangat berhati-hati,” dia menambahkan.